BERFIKIR TINGKAT TINGGI PADA BELAJAR DAN PEMBELAJARAN KIMIA
Berpikir Tingkat Tinggi
terjadi ketika seseorang mengambil informasi baru dan informasi yang tersimpan
dalam memori dan saling terhubungkan atau menata kembali dan memperluas
informasi ini untuk mencapai tujuan atau menemukan jawaban yang mungkin dalam situasi
membingungkan. Membahas tentang “Berpikir Tingkat Tinggi”, mengingatkan kita
kepada Taksonomi Bloom, terdapat tiga aspek dalam ranah kognitif yang menjadi
bagian dari kemampuan berpikir tingkat tinggi atau higher order thinking.
Ketiga aspek itu adalah aspek analisa, aspek evaluasi dan aspek mencipta.
Sedang tiga aspek lain dalam ranah yang sama, yaitu aspek mengingat, aspek
memahami, dan aspek aplikasi, masuk dalam bagian intilektual berpikir tingkat
rendah atau lower-order thinking. Membahas tentang berpikir tingkat tinggi,
kita bahas dulu tentang Ketrampilan berfikir.
Berpikir adalah eksplorasi
pengalaman yang dilakukan secara sadar dalam mencapai suatu tujuan. Tujuan itu
mungkin berbentuk pemahaman, pengambilan keputusan, perencanaan, pemecahan
masalah, tindakan, dan penilaian.
Menurut Ibrahim dan Nur
(2004), berpikir memiliki beberapan pengertian antara lain: 1)
berpikir adalah proses yang melibatkan operasi mental seperti induksi, deduksi,
klasifikasi, dan penalaran; 2) berpikir adalah proses secara simbolik
menyatakan (melalui bahasa) obyek nyata dan kejadian-kejadian dan penggunaan
pernyataan simbolik itu untuk menemukan prinsip-prinsip yang esensial tentang
obyek dan kejadian itu; dan 3) berpikir adalah kemampuan untuk menganalisis,
mengkritik, dan mencapai kesimpulan berdasar pada inferensi atau pertimbangan
yang seksama. Aderson & Krathwohl (dalam Aksela, 2005) menyatakan bahwa
tingkatan keterampilan berpikir dalam Taksonomi Bloom terdiri dari enam
tingkatan, yaitu pengetahuan (knowledge/recall), pemahaman (comprehension),
aplikasi (application), analisis (analysis), sintesis (synthesis),
dan evaluasi (evaluation).
Ball & Garton (2005) dan Aksela (2005) menyatakan bahwa kompetensi berpikir
dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu kompetensi berpikir tingkat rendah (lower
order thingking/LOW) dan kompetensi berpikir tingkat tinggi (higher
order thingking/HOT). Kompetensi berpikir tingkat rendah meliputi
mengingat, menghafal, dan sedikit memahami sedangkan kompetensi berpikir
tingkat tinggi adalah kegiatan mental dalam memecahkan masalah dalam tingkat
yang lebih tinggi dari tingkat berpikir dasar. Agar mampu memecahkan masalah
dengan baik dan berkualitas tinggi dituntut kemampuan aplikasi, analisis,
sintesis, evaluasi, generalisasi, membandingkan, mendeduksi, mengklasifikasi
informasi, menyimpulkan, dan mengambil keputusan.
Berpikir tingkat rendah lebih fokus pada pengumpulan, mengklasifikasi,
menyimpan, dan mengingat. Berpikir tingkat rendah tidak menghasilkan sesuatu
yang baru dan kreatif serta tidak memerlukan keterampilan berpikir yang lebih
rumit. Aksela (2005) menyatakan bahwa kompetensi berpikir tingkat rendah
meliputi pengetahuan (knowledge/recall), dan pemahaman (comprehension).
Arnyana (2007) mengemukakan
kompetensi berpikir tingkat tinggi dapat diajarkan di sekolah melalui proses
pembelajaran. Lebih lanjut mereka mengemukakan penekanan dalam proses
pembelajaran adalah melatih kompetensi berpikir siswa dan bukan pada materi pelajaran.
Mengajarkan siswa untuk berpikir secara langsung membuat siswa menjadi cerdas.
Dalam kompetensi berpikir tingkat tinggi kegiatan pembelajaran bersifat student
centered karena siswa yang lebih banyak berperan di dalam proses
pembelajaran.
Anderson & Krathwohl (2001)
menungkapkan bahwa kompetensi berpikir dapat dikelompokkan menurut Taksonomi
Bloom, seperti pada Tabel di bawah
Tabel Pengklasifikasian
kompetensi berpikir menurut Taksonomi Bloom
Taksonomi Bloom
|
Tingkatan Berpikir
|
Tinjauan
|
Knowledge (C1)
Comprehension (C2)
Application (C3)
Analysis (C4)
Synthesis (C5)
Evaluation (C6)
|
Lower-order
Lower-order
Higher-order
Higher-order
Higher-order
Higher-order
|
Mengingat
Memahami
Menerapkan
Menganalisis
Menciptakan
Mengevaluasi
|
Masing-masing tingkatan dalam
kompetensi berpikir tingkat tinggi adalah sebagai berikut.
- Tingkat Aplikasi (aplication level)
Tingkat aplikasi mencakup beberapa kemampuan, antara lain: 1) menggunakan
informasi; 2) menggunakan metode, konsep, teori dalam permasalahan baru; dan 3)
menyelesaikan masalah menggunakan pengetahuan dan kemampuan yang diperlukan.
2. Tingkat
Analisis (analysis level)
Tingkat analisis mencakup beberapa kemampuan, antara lain: 1) melihat
polanya; mengorganisasi bagiannya; 3) mengenal pengertian yang
tersembunyi; dan 4) mengidentifikasi komponen.
3. Tingkat
Sintesis (synthesis level)
Tingkat sintesis mencakup beberapa kemampuan, antara lain: 1)
mengeneralisasi fakta-fakta yang diberikan; 2) menghubungkan pengetahuan dai
beberapa area; 3) memprediksi, menarik kesimpulan; dan 4) menggunakan ide lama
untuk menciptakan hal yang baru.
4. Tingkat
Evaluasi (evaluation level)
Tingkat evaluasi mencakup beberapa kemampuan, antara lain: 1) memberi
penilaian terhadap teori; 2) membuat pilihan berdasarkan pertimbangan
pemikiran; 3) memperivikasi nilai bukti; 4) mengenal kesubyektifan; dan 5)
membandingkan dan membedakan antara gagasan.
Adang (1985), Suastra &
Kariasa (2001) mengatakan bahwa untuk melatihkan kompetensi berpikir tingkat
tinggi, siswa hendaknya diberi kesempatan sebagai berikut.
1. Mengajukan
pertanyaan yang mengundang berpikir selama proses belajar mengajar berlangsung.
2. Membaca
buku-buku yang mendorong untuk melakukan studi lebih lanjut.
3. Memodifikasi
atau menolak usulan yang orisinil dari temannya, guru atau dari buku pelajaran.
4. Merasa
bebas dalam mengajukan tugas pengganti yang mempunyai potensi kreatif dan
kritis.
5. Menerima
pengakuan yang sama untuk berpikir kreatif dan kritis seperti juga untuk hasil
belajar yang berupa mengingat.
6. Memberikan
jawaban yang tidak sama persis dengan yang ada dalam buku, namun konsep atau
prinsipnya benar.
Johnson (2002) menyatakan kompetensi berpikir tingkat tinggi dapat dibagi
menjadi kompetensi berpikir kritis dan kompetensi berpikir kreatif. Hubungan
antara berpikir kritis dan kreatif sebagai bagian dari berpikir tingkat tinggi
ditunjukkan seperti Gambar di bawah
Pada Gambar di atas, reasoning
merupakan bagian berpikir yang berada di atas levelretention atau recall (retensi
atau memanggil). Reasoning meliputi basic
thingking, critical thingking, dan creative thingking. Kompetensi retention
thinking merupakan tingkatan berpikir yang paling rendah. Retention
thinking yang merupakan berpikir hafalan atau ingatan, apabila
dikaitkan dengan tingkatan Taksonomi Bloom akan menempati tingkatan paling
bawah yaitu level hafalan (C1). Kompetensi basic thinking merupakan
tingkatan kedua. Dimana basic thinking merupakan pemahaman
(berpikir dasar). Jika dikaitkan dengan Taksonomi Bloom, maka basic
thinking menempati tingkatan kedua yaitu level pemahaman (C2). Critical
thinking dan creative thinking yang merupakan bagian
dari high order thinking, apabila dikaitkan dengan Taksonomi Bloom
akan menempati tingkatan keempat sampai enam, yang meliputi: level aplikasi
(C3), level analisis (C4), level sintesis (C5), dan level evaluasi (C6).
Dari penjelasan diatas bahwa kompetensi berpikir dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu kompetensi berpikir tingkat rendah (lower order thingking/LOW) dan kompetensi berpikir tingkat tinggi (higher order thingking/HOT). Bagaimana menurut anda sebagai seorang pendidik jika terdapat siswa yang kompetensi berpikirnya tingkat rendah?
TUGAS PORTOFOLIO 1
TUGAS PORTOFOLIO 1
PETA KONSEP


Tidak ada komentar:
Posting Komentar